LIPUTAN KHAS TAN MEDIA: Kampung Ketupat Samarinda dan Naik Ayun yang Bertahan di Tangan Acil Aay
Di Kampung Ketupat, Kota Samarinda, ada satu kerajinan yang perlahan mulai jarang terlihat. Namanya naik ayun, ornamen yang biasa dipasang pada ayunan bayi saat acara syukuran atau tasmiyah.
DI sebuah rumah panggung, Siti Khairiyah atau yang akrab disapa Acil Aay masih membuatnya dengan tangan. Daun nipah menjadi bahan utama. Helai demi helai dianyam hingga membentuk ornamen dengan beragam rupa. Ada yang menyerupai burung, keris, dan bentuk-bentuk lainnya. Bagi sebagian masyarakat, khususnya keturunan Kutai dan Banjar yang masih memegang adat, naik ayun bukan sekadar hiasan.
“Saya tidak tahu pasti maknanya, tapi orang dulu percaya ini naik ayun ini untuk tolak bala. Dulu ada saudara saya yang ayunannya tidak pakai naik ayun pas acara, besoknya sakit,” katanya kepada TAN Media.
Dalam satu pasang naik ayun, biasanya terdapat sekitar enam hingga delapan ornamen. Ornamen tersebut dipasang di sisi kiri dan kanan ayunan.
Seiring berjalannya waktu, tradisi tasmiyahan mulai yang menggunakan naik ayun perlahan mulai ditinggalkan. Bahkan, keterampilan membuatnya kini tidak lagi dimiliki warga Kampung Ketupat. Hanya Acil Aay yang tersisa.
Acil Aay mengatakan dahulu pengrajin naik ayun cukup banyak. Hasil anyaman bahkan dikumpulkan oleh pengepul yang datang membeli dalam jumlah besar. Satu ikat bisa berisi sekitar 100 buah. Harganya pada masa itu juga masih relatif murah, sekitar Rp100 ribu per ikat. Namun sekarang sudah tidak banyak yang menggunakan. Itu pun tidak setiap hari. Ia hanya menganyam ketika ada pesanan.
“Dulu banyak yang bikin. Karena tiap tasmiyahan pasti dipakai. Sekarang paling tinggal keturunan asli Kutai atau Banjar saja yang masih pakai adat. Jadi pesan langsung ke saya,” aku Acil Aay.
Untuk satu pasang naik ayun, Acil Aay kini menjualnya seharga Rp350 ribu. Tak heran, sebab di usianya yang sudah menginjak 52 tahun, menganyam tidak selihai dulu. Namun, selama masih ada yang memesan dan tangan Acil Aay masih mampu menganyam daun nipah, ornamen itu tetap dibuat di Kampung Ketupat.
“Tasmiyahan sekarang kan sudah pakai jasa dekorasi. Tapi alhamdulillah kadang masih ada yang pesan. Biasanya paling mepet dua hari sebelum acara sudah pesan. Saya buatkan, karena di sini yang bikin untuk dijual sudah tinggal saya,” tutupnya. (*)



